Jumat, 04 Maret 2022

Sahabat Sejatiku

 Jika ditanya, "Siapa sahabat sejatimu kini?"

Aku akan dengan lantang menjawab, "Suamiku."

Figur yang tampak acuh, tak perduli apa kata dunia, dan si pemakai sandal jepit kemanapun kakinya melangkah ini sesungguhnya memiliki sejuta rasa kasih dan sayang yang luar biasa tercurah untuk ku, istrinya dan anaknya.

Semua isi hati, isi pikiran dan segala gundah gulana yang kupikul rasanya sudah kucurahkan selalu kepada suamiku.

Sesungguhnya, ada perasaan bersalah dalam diriku setiap kali mengeluh dan menangis di hadapannya. Betapa berat beban yang ia pikul di pekerjaannya, sesampainya dirumah harus mendengar pula keluhanku.

Aku baru saja mengenalnya 5 tahun belakangan, namun semua hidupnya kini tersita hanya untuk menafkahiku dan anaknya. Bagaimana bisa aku memperlakukannya semauku?

Pria hebat yang kusebut suami ini adalah seseorang yang tangguh menghadapi berbagai benturan dalam kehidupannya. Darinya lah pula aku belajar menjadi kuat dan tangguh. Suamiku selalu mendampingi aku, si cengeng ini tatkala hatiku sedang rapuh mungkin karena perlakuan buruk orang lain terhadapku.

Berbanding terbalik dengannya yang sangat bisa mensortir hal-hal yang kiranya ia prioritaskan dan membuang yang dia anggap tak penting. Aku justru terlalu banyak menyimpan folder-folder sampah dalam hati dan pikiranku, sehingga menjadikan aku perempuan rapuh yang harus dibimbing ekstra olehnya.

Meski kadang kesabarannya diuji, ada kalanya nada suara suamiku meninggi tatkala membimbingku, namun hatinya selalu luluh kalau air mata sudah jatuh di pelupuk pipiku.

Tears is a woman's weapoon indeed.

Suamiku, dengan sejuta kelempengannya dan sikap acuh tak acuhnya justru adalah orang yang benar-benar aku butuhkan dalam hidupku. He is all I want in a man.

Bisa dipastikan setiap malam sebelum tidur, kami memiliki sesi pillow talk. Memang lebih banyak aku yang mendominasi obrolan pillow talk tersebut, karena suamiku memang irit berbicaranya, hehe.

Ada perasaan lega setiap kali sesi pillow talk kami berlangsung. Aku merasa selalu di dengarkan olehnya. Seringkali memang tak ada respon atau solusi dari suamiku, namun aku yakin yang dibutuhkan perempuan hanyalah telinga yang mau mendengarkan, terkadang kami sudah tahu apa yang harus dilakukan, namun dengan adanya validasi oleh orang yang mendengarkan kami, kami rasa sudah cukup. Perempuan cenderung hanya ingin di dengar dan dimengerti. Dan suamiku menerapkannya dengan baik.

Suamiku cukup demokratis dan feminis urusan pekerjaan domestik. Ia tak kan segan mencuci pakaian, menyapu, mengepel dan mencuci piring. Bahkan pekerjaan domestik jauh lebih rapih dan bersih jika dikerjaan oleh suamiku. Urusan packing baju pun, suamiku adalah ahlinya. Ia jauh lebih handal dibanding aku.

Berbeda dengan lelaki kaum patriarki yang masih merasa gengsi mengerjakan pekerjaan domestik. Suami feminisku ini justru menguasai betul urusan domestik dirumah.

Terlebih selama aku hamil, di akhir pekan kami sering kali berbagi tugas. Dia mencuci pakaian dan aku memasak. Aku menyapu dan dia mengepel. Aku mencuci piring dan dia menyikat wc.

Suamiku bak sahabatku. Aku lebih bangga menyebutnya sebagai sahabatku yang tinggal seatap denganku.

Ah, bercerita mengenai suamiku, aku jadi semakin rindu dengannya.

Kehamilanku kini menginjak 9 bulan, hanya tinggal menghitung hari. Hampir sebulan aku tinggal bersama orangtua ku, hampir sebulan pula aku terpisah dengan suamiku.

Sempat, di pekan lalu suamiku datang berkunjung selama 3 hari. Cukup lumayan, untuk sekadar melepas rindu.

Suamiku, sahabatku, partner hidupku, pendengar dan penasihatku...

Aku rindu sekali. Sehat selalu ya...

Rabu, 09 Februari 2022

Pernikahan Jarak Jauh

 Kini usia kehamilanku memasuki bulan ke delapan.

Aku, si perantau ini, akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman untuk melahirkan di kampung halamanku, bersama orangtua dan sanak saudara.

Keputusan untuk melahirkan di kampung halaman sebenarnya cukup mendadak, hal tersebut kuputuskan di usia tujuh bulan kehamilanku.

Lantas, diskusi panjang pun aku lalui bersama suami tentang pro dan kontra, plus dan minus nya melahirkan di tanah rantau dan di kampung halaman. Akhirnya keputusan pun telah bulat, kami memutuskan untuk kembali ke kampung halaman kami. Mengingat anak yang ku kandung ini akan lahir di pertengahan atau akhir Maret, yakni beberapa hari/pekan sebelum Ramadhan tiba. Tentu saja hal tersebut cukup menyulitkan kami apabila kami memutuskan agar aku melahirkan di tanah rantau, terlebih ini adalah anak pertama kami, tentu saja pengalaman kami masih nihil apabila tanpa uluran tangan dari orang tua.

Kami pun telah sepakat untuk berangkat di minggu ke-32 kehamilanku.

Perjalanan melewati tol cukup menyenangkan, tidak ada keluhan yang terlalu berarti, hanya lelah perjalanan yang cukup memporak-porandakan badanku yang sudah membengkak ini. Kami menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam.

Menyenangkan sekali, akhirnya kembali ke kampung halaman bertemu keluarga setelah beberapa bulan tak bertemu.

Keesokan harinya, kami bersiap melihat hasil USG 4D anak pertama kami, yang insyaAllah berjenis kelamin laki-laki. Namun, entah kenapa sejak awal kehamilan, setiap bulan di USG anak kami selalu tak pernah menampakkan mukanya. Terkadang tangannya ditutup di hidung, kemarin kakinya menggapai wajahnya, hingga tertutup semuanya dan hal itu terjadi kembali di USG 4D nya, anak kami menutup wajahnya dengan kaki mungilnya, astaga betapa lincahnya anak bujang kami ini.

Esok harinya, kami kontrol ke dokter di salah satu rumah sakit. Lagi-lagi janin ku tak mau menampakkan wajahnya, hanya sekelebat saja ia mau menampakkan wajahnya.

Lusa, adalah hari kepulangan suamiku ke tanah rantau, dikarenakan pekerjaan, tentunya.

Perasaanku sebenarnya sudah kalut sejak kami mengemas barang untuk bersiap pulang kampung. Jujur saja, tanah rantau kini sudah bak rumahku sendiri. Terlebih aku hidup berdua menjalani asam garam kehidupan bersama sahabat terbaik yang kupunya, suamiku.

Saat ia berpamitan pergi, dan meninggalkanku bersama orangtuaku. Rasanya campur aduk, sedih sekaligus khawatir akan keadaannya disana.

Aku harus menjalani pernikahan-jarak-jauh bersama sahabat rumpiku, penenangku dan sobat rusuhku. Rasanya sedih, tentu saja. Terlebih aku tak bisa bertemu dengannya setiap hari, seperti biasa. Tak bisa pillow talk sebelum tidur. Sampai hari kelahiran anakku tiba...

Aku selalu berdoa, semoga Allah senantiasa mengiringi langkahnya, semoga berkah Allah selalu berlimpah ke kehidupannya, semoga kesehatan selalu dilimpahkan disetiap harinya.

Hai, sahabat sekaligus suamiku, aku rindu.

Sehat-sehat selalu ya.

Minggu, 12 Desember 2021

Si Bungsu, Sang Perantau

 Aku ingat betul, lima hari setelah aku resmi menikah dengan suamiku. Aku dan suami berangkat ke kota perantauanku, tempat suamiku bekerja.

Masih teringat jelas betapa mendalamnya tangisanku kala mengemas baju-bajuku, dan larut dalam tangisan sembari memeluk Ibuku, sahabatku, rumahku, supporter utamaku, garda terdepanku, segalanya bagiku.

Kulihat Ayahku, cinta pertamaku itu berusaha kuat dan tegar melepas si bungsunya bersama pria pilihan putrinya untuk merantau. Tangisku pecah dalam pelukannya, terlebih Ayah selalu berbisik, "Jangan tinggalkan sholatmu, nak." setiap aku berpamitan dan memeluknya.

Aku berangkat malam kala itu, perjalanan ditempuh dalam kurun waktu empat hingga lima jam perjalanan. Sepanjang jalan aku hanya menahan tangis . . .

Pagi pun datang, aku ingat hari itu hari Jumat, tanggal 28 Mei 2021, pertama kalinya aku menginjakkan kaki ditanah perantauan kami ini.

Sesampainya dirumah yang ditinggali suamiku, tangisku pecah. Air mataku tak terbendung, hatiku hancur, aku belum kuasa menerima realita bahwa aku harus terpisah jauh dari Ayah & Ibuku.

Aku adalah si Bungsu yang selalu membuntuti Ibuku.

Aku tidak pernah pisah dari Ayah & Ibu selama 25 tahun fase kehidupanku. Terlebih dengan Ibu.

Alhamdulillah, aku memiliki Ibu dengan daya peka yang mutahir, keterbukaannya terhadap perkembangan zaman sangatlah patut diacungi jempol, sikapnya yang tak pernah menutup diri untuk belajar memahami anak-anaknya sangatlah sulit dilakukan oleh generasi beliau.

Karena itulah, anak-anak Ibu sangat dekat dengannya. Terlebih aku, sebagai si Bungsu dan anak gadis satu-satunya yang terpaksa harus berpisah dengannya.

Sejak kecil hingga kuliah pun, aku selalu diantar dan dijemput Ibu atau pun Ayah. Sejauh apapun akan mereka tempuh, untukku.

Pergi jalan-jalanpun, orang yang akan aku ajak adalah Ibu. Bercerita tentang apapun sembari rebahan di kasur adalah rutinitas harian kami. Bahkan, aku harus memeluk Ibu setiap hari, hal tersebut selalu kusempatkan. Entah sejak kapan kebiasaan itu terjadi, tapi itulah yang kuingat.

Aku adalah anak Ibu yang lumayan picky dalam hal makanan. Namun, meski dibalut omelan, Ibu selalu membelikan lauk terpisah buatku, atau pergi naik motor mencarikan lauk untukku kemudian menyimpannya di lemari atau atas beras, agar dapat kumakan. Sepele memang, tapi bagiku itulah pengorbanan.

Kemudian diusiaku yang ke-25 aku harus dihadapkan pada realita bahwa aku tidak bisa lagi satu rumah dengan Ibu & Ayah, bahkan satu kota pun tak bisa. Pedih lah aku.

Di awal-awal pernikahan, tangisku sering kali pecah, ketika aku berada sendirian dirumah ketika suamiku bekerja. Melihat pagar rumahku, sambil membatin, "Betapa sulitnya aku menjangkau rumah Ibuku. Takkan mudah bagiku untuk mengunjunginya kapanpun aku mau."

Berbagai cara untuk beradaptasi pun aku lakukan. Mulai dari membaur dengan Ibu-Ibu komplek saat membeli sayur, mengobrol dengan istri dari teman-teman suamiku, atau bercengkrama dengan anak dari tetangga samping kiriku yang luar biasa bawel dan pintar.

Perlahan-lahan, aku mulai terbiasa.

Meskipun begitu, walau hidup di perantauan, Ibu tetap adalah orang yang ku cari saat aku kesulitan memasak. Mengingat aku jarang sekali turun kedapur semasa gadisku, hehe.

Untungnya, dengan kecanggihan teknologi, aku bisa video-call dengan Ibu. Menanyakan tahapan demi tahapan cara memasak sayur asem atau pempek, atau bahkan cara memotong ayam pun Ibu lah yang ku cari.

Menelpon Ibu adalah rutinitasku kini. Menghubungi beliau setiap hari atau paling tidak dua hari sekali. Bertukar kabar dan cerita tetap dilakukan oleh kami berdua atau bergosip menceritakan tingkah-tinggah kocak Ayah adalah hal rutin yang aku dan Ibu lakukan.

Meskipun terpisah jauh, aku tetap berusaha keep in touch melalui ponsel dengan Ayah & Ibu. Paling tidak, itulah salah satu cara agar aku tetap bisa menjaga mereka.

Di kehamilanku yang memasuki usia kandungan ketiga bulan yang lalu, Ayah & Ibu berkunjung ke kota perantauanku. Karena aku seringkali mengeluh pusing dan mual-mual tiap kali masak. Aku rindu sekali masakan Ibu. Bahagia benar-benar terasa di dalam rumah. Aku bisa tertawa terbahak-bahak dengan lelucon Ayah. Aku bisa bercerita berbagai hal dengan Ibu, dan aku bisa memeluk Ibu ketika sedang rebahan.

Sayangnya, tentu hal tersebut tidak bisa selamanya dilakukan. Ayah & Ibu menjengukku hanya selama dua minggu. Yah, setidaknya dapat mengobati rasa rinduku kepada kedua orangtua yang begitu aku kasihi.

Kini, usia kehamilanku semakin membesar, sudah memasuki usia kandungan ke enam bulan.

Entah kenapa, rasa rindu akan Ibu & Ayah kembali tak terbendung. Rasanya hampir dua minggu lebih aku selalu menangis, merindukan Ibu & Ayah ku yang jauh disana.

Perasaan kalut akan hari tua mereka, mulai menghantuiku. Aku sebagai anak perempuan satu-satunya merasa memiliki tanggung jawab untuk merawat mereka di hari tuanya.

Sementara dengan kondisiku yang jauh ini, aku sedikit memiliki perasaan bersalah. Tanganku tak lagi dapat dengan mudah menggapai mereka, untuk sekadar mengurut tubuh letih Ibu karena seharian memasak atau mengoles aloe vera ke kaki Ayah yang kering.

Entah karena akan menjadi seorang Ibu, perasaan rinduku terhadap Ibu kian tak terbendung.

Setiap kali aku merasa kesakitan dalam kehamilanku, air mata tanpa sadar seringkali menetes di pipiku. Sembari membayangkan, betapa sulitnya juga Ibu saat mengandungku.

Aku merasa masih rindu menjadi anak Ayah & Ibu. Aku masih rindu bermanja-manja dengan mereka.

Namun, mustahil rasanya.

Ah, menjadi seorang perantau mengajarkan aku untuk lebih menghargai momen & waktu.

Selama 25 tahun, aku merasa keberadaan Ayah & Ibu adalah hal yang biasa. Hanya sebatas formalitas bahwa dalam rumah normalnya ada Ayah, Ibu & Anak-anak. Momen kebersamaan kami pun pada akhirnya hanya sebagai rutinitas biasa saja.

Rupanya ketika aku melangkah ke dunia luar, kehadiran Ayah & Ibu adalah nikmat yang harus selalu aku syukuri. Sehatnya mereka kini adalah kabar baik bagiku. Momen bersama mereka adalah sesuatu yang harus aku apresiasi.

Orangtua ku adalah rumahku untuk pulang. Dan aku harap aku pun bisa menjadi rumah bagi Ayah & Ibuku untuk pulang.

Doaku, semoga Ayah & Ibu selalu dalam lindungan dan keberkahan Allah.

Semoga kami kelak akan berkumpul bersama di Jannah nya Allah. Aamiin 🤍

Kamis, 09 Desember 2021

Lahir Menjadi Seorang Ibu

Kini usia kehamilanku memasuki bulan ke enam. Sebentar lagi, aku akan berpisah dengan "honeymoon period" dalam kehamilan, kata orang-orang, alias Trimester 2.

Beberapa perubahan signifikan sudah terjadi dalam tubuhku dan pola hidupku.

Misalnya, tak sanggup lagi sholat dalam kondisi berdiri, kini akupun sholat dengan bantuan kursi alias duduk.

Posisi tidurku juga mengalami perubahan yang lumayan menguras energi serta emosiku. Aku tak lagi bisa berbaring dengan nyaman. Beban diperutku terasa sangat kencang. Sulit sekali sekarang bagiku untuk mencari posisi tidur dengan nyaman. Terkadang ku balikkan tubuh ke kiri, dua atau tiga menit berikutnya akan kuubah lagi posisi tidurku ke arah kanan, bahkan rasa ngos-ngosan saat mengatur posisi tidur sudah sering kurasakan.

Hingga perasan kalut, cemas, takut, dan sedih pun turut serta dalam proses perubahanku menjelang kelahiran anak pertamaku ini.

Hal ini bukan karena suamiku yang kurang kasih sayang, tentu tidak.

Beliau adalah suami siaga. Suamiku takkan tidur sebelum memastikan aku sudah terlelap dalam tidurku.

Suamiku selalu memastikan, apapun yg aku butuhkan telah terpenuhi. Ia akan berusaha mencukupinya.

Perasaan-perasaan semacam itu muncul begitu saja, oh tentu tidak.

Aku yakin sudah pasti ada pemicunya.

Yang ku yakini, kesendirianku saat suami bekerja hingga sore rupanya membuat perasaan-perasaan tak mengenakkan tersebut berkuasa dalam dadaku.

Terlebih aku dan suami adalah seorang perantau. Jauh dari orang tua, jauh dari Ibu, perempuan yang sangat ku kasihi.

Jauh dari Ibu dalam kondisi hamil seperti sekarang ini, membuat perasaan kalutku semakin menjadi.

Sering sekali, aku menangis sendirian tatkala aku merenung sendirian dalam rumah. Sembari berandai-andai, ah andai aku dan Ibu masih dalam satu kota yang sama. Betapa senangnya aku. Aku bisa mengunjungi Ibu kapanpun, begitu pula sebaliknya.

Aku benar-benar sendirian ketika suamiku bekerja. Aku harus mengurus diriku sendiri tanpa bantuan Ibuku, sang penyelamatku.

Kini aku harus menyelamatkan diriku sendiri dan juga bayi dalam kandunganku.

Terkadang, layaknya Ibu-Ibu hamil pada umumnya, mual dan muntah rasanya lumrah terjadi, bukan?

Termasuk pada diriku, bedanya aku muntah tak ditemani siapapun, ketika suamiku berada diluar untuk bekerja.

Sering kali aku sampai menangis sendirian dalam kamar mandi, hingga bergetar tanganku menyiram bekas muntahanku.

Ya Tuhan, aku sendirian. Batinku dalam hati.

Berjuang sendirian, demi bayiku.

Tanpa sentuhan tangan Ibuku yang membantuku.

Aku harus memenuhi gizi anakku sendirian, aku memikirkan masakan yang harus kumakan agar gizi anakku di dalam rahim terpenuhi.

Tidak ada tangan Ibu yang menyodorkan makanan untukku, seperti dulu.

Memang semenjak menjelang bulan ke enam ini, perasaan rindu akan sosok Ibu begitu berkecamuk dalam hatiku.

Entah karena diriku mulai tak berdaya, hingga aku butuh sang penyelamat hidupku itu.

Seperti semalam, aku memimpikan Ibu. Hingga aku terbangun dalam keadaan menangis. Suamiku langsung mendekapku, menenangkan aku hingga aku tenang.

Aku rindu Ibu.

Setiap kali aku mengalami kesakitan selama kehamilanku, aku selalu menangis, teringat sosok Ibu.

Teringat sosok Ibuku yang tangguh.

Batinku berujar, "Seperti inilah dulu Ibu saat mengandungku."

Semakinlah aku larut dalam kesedihan.

Aku butuh Ibu. Aku rindu dekapannya.

Aku ingin bercerita betapa belum puasnya aku menjadi seorang anaknya, namun aku harus siap menjadi seorang Ibu bagi cucunya.

Jarak kotaku ke kota Ibu memang tak jauh, hanya 4 sampai 5 jam saja.

Namun, tetap saja, kami di kota yang berbeda. Tak kan bisa aku dengan semena-mena berkunjung ke rumah Ibu. Aku harus mempersiapkan ini dan itu, belum lagi suamiku harus mengurus cuti, repot!

Berbeda halnya jika aku dan Ibu hidup di kota yang sama. Hitungan menit, aku bisa langsung sampai dirumah Ibu. Duduk sekitar 2 atau 3 jam pun dirasa cukup, kemudian pulang. Sangat sederhana.

Apalagi, aku seorang anak perempuan. Aku merasa memiliki kewajiban tak tertulis, untuk mengurus dan memantau Ayah & Ibu.

Memang, hubungan anak dan orang tua bukanlah perkara transaksional.

Bukan tentang anak harus membalas jasa dan jerih payah yang telah di korbankan orang tua.

Memang tak ada peraturan tertulis bahwa sebagai anak, kita harus merawat orangtua kita.

Namun, nuraniku berkata, hubunganku dengan orangtua memang bukan perkara transaksional balas membalas, namun ini perkara kasih sayang.

Kasih sayang yang selama aku hidup dicurahkan oleh Ayah & Ibuku lah yang menumbuhkan rasa tanggung jawabku untuk mengurus mereka di hari tuanya.

Namun, karena kondisiku diperantauan, hal-hal tersebut tak dapat kupenuhi dengan maksimal. Hanya doa yang dapat ku panjatkan untuk Ayah & Ibuku.

Perasaan cemas juga menghantuiku, cemas apakah aku bisa melahirkan dengan lancar? Apakah anakku sehat, anggota tubuhnya lengkap, normalkah ia?

Semua pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku. Takut tak bisa maksimal menjadi Ibu. Takut tak bisa menjadi suri tauladan bagi anak laki-lakiku ini.

Semoga perasaan-perasaan yang menderaku ini lekas hilang. Semoga aku bisa merdeka menjalani hidup di perantauan.

Aku berdoa agar Ayah & Ibuku senantiasa sehat dan berada dalam lindungan Allah.

Sekali lagi, dengan kondisiku di perantauan, hanya doa yang bisa kutitipkan melalui tangan Tuhan, biarlah tangan-Nya yang menjaga Ayah & Ibu ketika tanganku kini tak lagi mampu merangkul mereka dari dekat.

Minggu, 22 Agustus 2021

Saya Menikahi Sahabat Saya

Pada pagi hari di tanggal 12 Syawal 1442 H, saat itu saya sedang dirias.
Banyak pasang mata yang menatap saya.
Namun sangking gugupnya, saya hanya tersenyum, dan melanjutkan dzikir-dzikir saya.
Hari itu saya menikah.

Tepat pukul 09.00 pagi, penghulu sudah datang. Tangan ayah saya menjabat seorang laki-laki yang sudah saya kenal sejak empat tahun lalu.
Dengan mengucapkan Ijab Qabul, para saksi mengucapkan sah. Dan kini laki-laki itu yang saya sebut "suami".

Saya keluar dengan mata berkaca-kaca. Menggandeng kedua kakak lelaki saya menghampiri suami saya.
Saya sungguh tidak menyangka bahwa sahabat sayalah yang akan menjadi suami saya.

Lima hari sesudah menikah, saya diboyong ke kota dimana suami saya mengais rezeki.
Tangis haru pun pecah tatkala saya dibantu Ibu packing mempersiapkan peralatan saya.
Ibu sudah seperti sahabat buat saya, Ibu adalah cinta mati saya. Rasanya saya tidak bisa membayangkan kalau tidak ada Ibu.

Namun, saya harus berpisah dengan belahan jiwa saya, Ibu saya.
Ibu adalah sahabat saya. Tempat saya mencurahkan isi hati, tempat saya bergosip, tempat saya berdiskusi. Kini, hidup saya sudah berpindah tangan ke sahabat saya yang lain, yakni suami saya.

Begitu mandirinya kami, hingga pergi ke perantauanpun kami hanya berdua, tanpa dampingan orangtua kami.
Sesampainya di tanah rantau, saya menangis.
Saya takkan lagi bisa dengan mudahnya melihat Ibu saya. Ibu saya sudah jauh di kota sana.
Cukup lama saya menerima kenyataan tersebut.
Berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan saya selalu menangis nyaris setiap hari.
Merindukan Ibu saya dan pelukan hangatnya.

Namun,
Rasa bahagiapun menyelimuti hidup saya ketika saya tahu, suami saya yang juga merupakan sahabat saya lah yang akan menemani saya.

Betapa beruntungnya saya,
Memiliki sahabat seumur hidup di hari-hari saya.
Teman diskusi adalah suami saya.
Teman berkeluh kesah adalah suami saya.
Teman konyol yang membuat gelak tawa adalah suami saya.
Teman bergunjing dan nyinyir adalah suami saya.
Teman berkelahi adalah suami saya.
Teman berbagi suka dan duka juga adalah suami saya.

Saya senang, suami saya selalu melibatkan saya kedalam diskusi tatkala kami akan mengambil keputusan-keputusan.
Suami takkan sibuk memenangkan egonya sendiri.

Betapa beruntungnya saya,
Karena bisa menikah dengan sahabat saya.