Kamis, 21 Februari 2013

Kado Untuk Ibu

Hari itu hari minggu,aku sangat lega.Aku sangat senang.Mengingat begitu stressnya diriku selama sepekan ini.Aku sudah memiliki angan-angan untuk pergi hang-out,berbelanja atau sekadar minum kopi di salah satu coffe shop favoritku.

Bagiku,matahari terbit pada pukul 10 pagi di hari minggu.Aku adalah seorang gadis remaja berusia 16 tahun yang sangat pemalas.Yah,harus aku akui hal memalukan tersebut.Aku tak bisa mencuci pakaian,aku tak bisa menggosok pakaian atau sekadar melipat baju yang sudah di angkat dari jemuran.Untuk masalah dapur,terutama memasak aku tidak ahli dalam bidang tersebut.Aku bukan perempuan dengan naluri keibuan,aku bisa mencuci piring,tapi terkadang saja aku melakukan hal tersebut.Aku malas,aku terlalu sibuk dengan smartphone pemberian ibu dan memainkannya di kamar sepanjang hari.Semua pekerjaan rumah dilakukan oleh ibu.Ibu sering kali mengomeliku,ketika ibu sudah mengomeliku ayah selalu ikut-ikutan.Aku kadang malas mendengarnya,tapi aku tak berusaha membantah.Aku tak berusaha buka mulut,hanya bungkam.Sejak kecil,ibu mengajariku untuk hormat kepada orangtua.

Pada hari minggu itu,aku bangun lebih awal.Pukul 8 pagi,aku bangun.Seperti biasa,aku mengecek tudung saji yang ada di atas meja makan,Kosong.Aku geram sekali,sudah sejak tadi malam aku belum makan.Jujur saja,aku agak muak dengan keadaan ekonomi di rumah saat itu.Aku sangat terbatas dalam membelanjakan uang.Aku tak bisa kemana-mana,karena ibu dan ayah tak punya cukup uang.Aku agak kesal dengan kedua orangtuaku.Aku iri kepada teman-temanku yang memiliki banyak uang,bisa pergi kemana-mana.Menonton bioskop,berbelanja baju,hang-out di mall.Aku iri ketika teman-teman ku memiliki gadget mahal yang aku tak dapat miliki karena keterbatasan ekonomi yang meluluh-lantakkan keluargaku.

Dulu,sejak lahir.Aku tak pernah kekurangan sesuatu apapun.Apa yang kuinginkan selalu dikabulkan.Aku lahir di Palembang,kemudian beberapa bulan setelah aku lahir.Keluargaku menetap di Aceh.Ayah bertugas disana,kemudian karena Aceh sedang rusuh saat itu,ketika umurku 3 tahun aku,ibu dan kedua kakak laki-lakiku pindah ke Medan.Hanya Kami ber-empat yang menetap di Medan.Tanpa ayah,tanpa kepala keluarga yang memimpin kami.Hanya ada ibu luar biasa-ku,ibu mengurus segala kebutuhan kami sementara ayah bertugas sebagai supervisor di salah satu perusahaan milik negara yang bisa dikatakan besar,kala itu.Aku dan kedua kakak laki-laki ku selalu mendapatkan apa yang kami inginkan.Aku yang masih TK sampai SD saat itu,aku selalu mendapatkan hadiah barbie mahal setiap minggunya.Karena hampir setiap minggu aku dan ibu berbelanja ke Mall.Bagiku ketika masih menetap di Medan,mall sudah seperti apartemen yang pasti selalu kusinggahi setiap minggu.Kakak laki-laki ku yang nomor dua tidak terbiasa dengan mainan-mainan pasar.Ibu selalu membelikannya mainan remote control,tamiya dan mainan-mainan yang bisa di bilang mahal pada zaman itu.Pada awal abad baru,pada awal tahun 2000-an.
Bahkan ketika TK,saat ibu enggan menuruti keinginanku untuk ke Mall karena alasan tidak punya uang,dengan gampangnya aku bilang, "ambil saja melalui ATM" uang sudah seperti mainanku pada saat itu.Ingin rasanya aku kembali ke masa kecil ku dulu,dimana semua kebutuhanku terpenuhi.

Tapi,kemudian aku dan keluarga memutuskan pindah ke kampung ayah,Palembang.Dua atau tiga tahun menetap di Palembang Ayah memutuskan pensiun dini,itu terjadi sejak 8 tahun yang lalu.Sejak ayah pensiun,pengeluaran kami hanya mentok di uang pensiunan ayah yang memang bisa dikatakan cukup besar.Kami membeli rumah yang lumayan besar dari hasil uang pensiun dini ayah.Saat itu,kami masih hidup enak.Tak kekurangan apapun.Tapi,yang namanya uang.Pasti akan habis jika dihabiskan perlahan-lahan.Akhirnya karena ke'lengah'an kami,Kami jatuh miskin,miskin semiskin-miskinnya.Ayah tak punya penghasilan dan kami tak dapat pemasukan.

Aku ingat sekali masa suram itu.Saat itu aku masih kelas 1 SMA,aku berumur 14 menjelang 15 tahun.Aku ingat ketika aku belum makan dari pagi hingga siang,aku ingin membeli mie instan di warung.Mie instan itu seharga Rp.1000.Aku meminta uang pada ibu,ibu bilang bahwa ia tak punya uang sepeserpun.Bahkan untuk Rp.1000.Aku masuk ke kamar dan membanting pintu,aku kesal,sedih aku frustasi.Begitu miskin kah kami sampai aku harus kelaparan.

Akhirnya,karena keadaan ekonomi yang begitu mendesak.Ibu dan ayah memutuskan untuk menjual rumah yang kami banggakan itu.Pada awalnya,ketika mendapatkan hasil dari menjual rumah.Ayah dan ibu memiliki banyak uang lagi.Tanpa pikir panjang lagi,ibu cepat-cepat mencari rumah agar kami dapat rumah yang layak untuk dihuni.Walau memang tak sebesar rumah yang lama,rumahku cukup nyaman untuk ditinggali.Ibu lah yang selalu merapikan dan membuat rumah ini menjadi nyaman dan terasa nyaman.Ibu sangat pintar mendekorasi rumah dan membersihkan rumah.

Tapi,sekarang...
Aku mulai melihat gelagat aneh dari kedua orangtuaku.Makanan yang dimasak tak lagi mewah,aku tak bisa pergi ke Mall seperti awal-awal rumah lama kami dijual.Lagi-lagi harus ku katakan yang namanya uang pasti akan habis meski itu dalam sekejap mata.Lambat laun uang hasil membeli rumah mulai berkurang.Aku dan kedua kakak ku sudah wanti-wanti dan sering menyuruh ibu untuk membuka usaha.Tapi,mereka terlalu takut sepertinya.Jujur,aku tidak ingin masuk kembali ke masa suram itu.Aku tak mau.

Minggu pagi itu merupakan awal dari kemarahanku,
Aku kesal.Tak ada makanan di meja makan.Aku jengkel.Haruskah aku kelaparan?
Aku bahkan belum makan sejak tadi malam.
Aku menuju dapur,ku lihat ibu sedang menggoreng ikan.Yah,satu lagi kepayahanku.Aku tidak suka ikan,sangat tidak suka.
Hati ku yang sudah memanas semakin geram dengan ibu.Tapi,aku tak pernah berani mengungkapkannya dengan kata-kata.Aku adalah tipe orang yang pedas dalam berkata-kata.Meski dalam keadaan marah aku tetap mengontrol kata-kataku.Karena aku selalu berusaha menghormati dan menjaga perasaan ibu.Aku melihat ada sebungkus mie dan memutuskan untuk memasaknya.Aku makan dengan mie.

Siangnya,aku tak melihat gelagat apapun dari ibu.Padahal aku sudah menunjukkan gelagatku.Ibuku adalah orang yang tegas,tapi ia cukup pengertian terhadap anak-anaknya.Aku ingin pergi jalan,aku ingin ibu menemaniku ke Mall.Aku rindu mall.Sudah hampir 2 atau 3 bulan ini aku tak menginjakkan kaki di Mall dan berbelanja.Aku sudah mondar-mandir keluar masuk kamar.Ibu sepertinya sudah tahu,karena ibu adalah orang yang paling pandai dalam membaca pikiran manusia.Tapi ia tak berusaha mengajak ku.Aku benci.Aku benci sekali.

Hingga sore menjelang,tak ada ada gelagat ibu untuk mengajakku berjalan.Aku sudah menebak ibu pasti tak punya uang.Aku menyadarinya.Ini lah yang membuatku benci padanya.Ibu tahu ia tak punya uang,ibu tahu bahwa perekonomian keluarga sedang sulit,ibu tahu dia kesusahan dalam hidupnya.Ia tak dapat bergerak leluasa seperti ketika kami memiliki banyak uang.Tapi,ibu seperti seolah-olah tak tahu bahwa aku juga sengsara,aku korban.Aku memiliki banyak kebutuhan,aku memiliki banyak keinginan.Dan semua tidak bisa terlaksana sesuai kehendakku.Karena apa? Karena uang,uang sedang tidak berpihak kepada keluargaku,dan orangtua ku pun seolah berpikir bahwa uang yang akan datang pada mereka.Aku benci pemikiran seperti itu,yang aku rasa sepertinya orang tua ku berfikir begitu.

Aku memutuskan untuk menghabiskan minggu yang menyebalkan itu dengan tidur saja dirumah.Sudah cukup amarah dan kekesalan yang kupendam dalam hati,aku hanya menjaga perasaan ibu saja makanya aku diam.Jika boleh,ingin sekali aku melempar gelas di dapur dan memakinya.Aku kesal,aku tak diberi banyak uang seperti teman-temanku.Kenapa kenikmatan datang di saat aku masih kecil,disaat kebutuhanku tak begitu banyak untuk tampil modis.Kenapa pada saat aku mengerti uang,aku mengerti fashion,aku mengerti hang-out,justru uang tak berpihak dan mengalir pada keluargaku?

Aku tak mau keluar kamar,hanya di dalam kamar seharian.Kurasa ibu juga tahu tentang kemarahanku.Tapi,ia tak berusa mengubris atau memburuku dengan pertanyaannya.
Dan,dari dalam kamar aku mendengar ibu batuk-batuk.Ibu sesak nafas.Aku keluar kamar berpura-pura mengambil air minum.Ku lirik ibu sekilas di ruang TV,lalu kupalingkan wajahku dengan angkuh dan berlalu meninggalkannya ke dalam kamar.Begitu seterusnya,hari minggu itu aku sangat kesal terhadap ibu.Aku membencinya,aku selalu memasang wajah angkuh di depannya.Agar ibu tahu bahwa aku kesal padanya.

Pukul 22.00....
"Dek..Dek ayu..." Suara wanita,yang sangat akrab ditelingaku menggema.Aku menggeliat di kasur,aku ketiduran.Aku bangun dan membuka pintu kamarku.Dengan mata berat ku lihat ibu sudah berpakaian rapi,sepertinya dia akan pergi dengan ayah. "Mau kemana?" tanyaku. Nafas ibu terengah-engah,batuk mengguncang tubuhnya,ia sepertinya sesak. "Ibu dan ayah akan pergi.Ini bajumu,sudah ibu gosok tadi dan ini uang jajanmu besok.Ibu akan ke rumah sakit.Sepertinya ibu akan dirawat dirumah sakit."
Hatiku bergetar.Ada apa ini? Tanya ku dalam hati,tapi hati dan otakku tak sejalan.Aku hanya mengangguk mendengar ucapan ibu.Aku melirik baju seragam putih abu-abu ku,sudah rapi.Entah kenapa hatiku terus berdenyut-denyut,terasa sakit.Tanpa sadar aku menitihkan air mata.

Tuhan,sejahat inikah diriku.
Disaat ibuku sedang sakit,aku hanya menatapnya dengan angkuh.
Aku kesal,aku membencinya.
Kenapa aku begitu membenci orang yang sudah melahirkan,merawatku,dan mendidikku?
Aku tak pernah peduli padanya,aku tak pernah mau membantunya,aku tak pernah merawatnya.
Tuhan,aku menyayanginya.
Aku sangat menyayangi ibuku.
Tapi,kadang kala..Aku begitu membenci ibu.
Aku membenci ibuku yang tak memberiku banyak uang agar aku dapat tampil modis dan mewah seperti teman-temanku.

Paginya...
Ketika,Aku bangun pagi.Ayah menyiapkan teh hangat untuk aku,kakak ku dan dirinya.Sudah kebiasaanku sejak kecil,ketika aku bangun tidur yang pertama kulihat adalah ibu kesayanganku.Tapi,aku tak melihatnya. "Mana ibu?" tanyaku pada ayah. "Ibu dirawat dirumah sakit.Kata dokter jantungnya bermasalah."
Pendengaranku serasa hilang,aku tuli.Aku merasa kosong,jiwaku melayang,tungkai kaki ku terasa lemas.Aku tak dapat bertopang pada kaki ku. "Jantung maksudnya?" Karena selama ini,separah apapun penyakit yang ibu derita ia selalu kuat.Ibu bukan orang yang lemah,ia tidak pernah merasakan tempat tidur di rumah sakit selama hidupnya,ibu tidak pernah masuk rumah sakit.Tapi,hari itu keadaan ibu benar-benar lemah.Ibu sakit,dan sampai harus dilarikan ke rumah sakit dan menjalani rawat inap.
"Doakan saja yang terbaik.Semoga hal-hal yang buruk tak terjadi pada ibu." Jelas ayah. "Ibu tidak terkena serangan jantung kan?"
"Mudah-mudahan tidak.Tapi malam sudah rekam jantung,semoga semuanya baik-baik saja." jelas Ayah.

Ibu,maafkan aku.
Maafkan aku yang selalu bersikap murka di depanmu.
Maafkan aku yang terlalu labil
Yang selalu menjadi anak kecil
Maafkan aku yang tak bisa menjadi gadis dewasa seperti yang kau harapkan
Maafkan aku yang tak bisa mengubah pola fikir kekanak-kanakan ku.
Aku terlalu egois,
Maafkan aku yang selalu menjadi gadis pemalas,
Maafkan aku yang terkadang membantah ucapanmu,
Maafkan aku yang selalu kesal padamu,
Maafkan anakmu yang jahat ini,
yang terkadang membencimu.
Ibu,aku mencintaimu..
Dengan segenap jiwa ku,
Dibalik semua sifat jelekku,
Yang selalu menjengkelkanmu,
Aku selalu ingin yang terbaik untuk ibuku
Untuk ibuku yang luar biasa
Untuk ibuku yang hebat
Untuk ibuku,wanita paling tangguh yang pernah aku kenal
Untuk ibuku yang sudah melahirkanku ke dunia ini,
Untuk ibuku yang selalu sabar merawat serta mendidikku....
Aku berjanji akan membahagiakan dan membanggakanmu.

Ibu,
Selamat hari kelahiran yang ke 45 tahun.Tetaplah bersamaku,selamanya.
Tetaplah menjadi ibu kebanggaanku,
Tetaplah disisiku,menjagaku,merawatku dan mendidikku.
Tetaplah bersamaku,
Hingga aku membuatmu menitihkan air mata kebahagiaan melihat aku yang akan membanggakanmu,aku yang akan membahagiakanmu
Aku berjanji akan menjadi orang yang sukses,
Demi mu,
Demi kebahagiaanmu.
Karena aku sangat mencintai ibuku

Anakmu yang selalu mencintaimu,



Ayulita Evilia Putri

2 komentar:

  1. Yu tdi aku smo rizka sdah bco
    Ibuk kau msok rmah sket yo yu, rumah saket mano yu?
    Ceritonyo keren yu, daebakk lah pkoknyo yu d(^_^)b ado sedehnyo, jjur be pas baconyo bekaco2 mto kami (˘̩̩̩-˘̩ƪ)

    BalasHapus
  2. Yu tadi aku samo rizka la baco yu, ibuk kau msok rumah saket nian yu ye dimano yu?
    Keren yu ceritonyo daebakk lah yu d(^_^)b jjur yu baco nyo bekaco" mato kami (˘̩̩̩-˘̩ƪ)

    BalasHapus