Tanggal 16 Juli 2014,
Tanggal itu begitu terngiang-ngiang di kepalaku...
Hari itu bisa dikatakan sebagai hari kehancuranku.
Setelah semua yang kuperjuangkan dan aku korbankan terasa sia-sia,
Aku dinyatakan tidak lulus atau gagal dalam SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri).
Hancur?
Sangat hancur?
Sore itu,
jam 4 sore. Masih suasana puasa, web pengumuman SBMPTN sudah dibuka,dan aku membuka hasil ujianku. Betapa hancur nan perih, saat melihat aku dinyatakan tidak lulus. Aku menangis, sekeras mungkin. Ibuku ikut menangis meski ia menyelipkan kata-kata motivasi,tapi aku tak sedang menghiraukannya. Ya Tuhan,aku gagal... Untuk kesekian kalinya.
Hidupku terasa mati saat aku dinyatakan tidak lulus di jalur SNMPTN atau Jalur Undangan tanpa tes. Saat itu semua prodi yang kuajukan sungguh bidang yang kuminati. Aku memilih Pend.Bahasa Inggris dan Sastra Belanda.
Tapi,aku gagal.
Sejak kecil,aku memang mencintai dunia bahasa dan sastra, terkhususnya bahasa inggris. Aku menaruh minat besar terhadap bahasa inggris.
Dari SD sampai SMA, ketika penerimaan rapor..
Nilai bahasa inggris lah yang pertama sekali aku cek. Aku senang bisa berbahasa inggris dengan orang lain,aku senang menonton film barat dan memperagakan dialog mereka,aku senang mendengarkan lagu barat dan menyanyikannya sepanjang waktu.
Aku mencintai bahasa inggris.
Aku bahkan sempat ditentang kakak laki-laki ku ketika aku dengan lantang menyebutkan cita-citaku :
"Aku ingin jadi guru bahasa inggris"
Ia mencibirku, ia berpikir bahwa fasih berbahasa inggris bisa kudapat dari kursus, tapi ia tak tahu bahwa aku ingin menjadi pendidik. Dan aku sadar betul, biasanya orang yang fasih berbahasa asing akan lebih dihargai. Entah dari mana dasar keyakinan itu,hanya saja aku sudah mengganggap bahasa inggris sebagai passion terbesarku. Aku masih dihantui rasa penasaran dengan Agnes Monica yang lancar berbahasa inggris. Ada banyak hal yang membuatku penasaran dengan bahasa inggris.
Saat dinyatakan tidak lulus jalur undangan, aku harus banting setir ke jurusan yang benar-benar tidak kuminati. Aku yang lemah dalam hitungan justru mengambil jurusan kimia,biologi,dan fisika. Abstrak rasanya, rasanya aku ingin terkekeh mengingat jurusanku itu.
Well,
meskipun itu bidang yang bukan ku kehendaki, aku tetap berjuang mati-matian. Rasanya mustahil kalau aku harus terus pasrah.
Aku berjuang mati-matian untuk penasaran dan mempelajari serta mencintai bidang yang kubenci itu. Nyaris setiap hari aku les dan konsultasi dengan tentorku, Saat tak ada teman-temanku yang les aku hanya datang sendiri di tempat les. Belajar dan berusaha konsentrasi pada bidang eksak tersebut.
Tapi tetap, aku tak dapat meraih PTN.
Aku tetap tak dapat menyentuh PTN favoritku,
Aku menangis.
3 hari, 3 malam, saat malam tiba, saat menjelang tidur aku selalu menangis.
Aku merasa gagal,
merasa gagal menjadi seorang siswa,
dan aku merasa gagal menjadi seorang anak.
Aku tidak bisa dibanggakan.
Aku hanya merepotkan saja,
Aku terlalu manja, bahkan saat les aku selalu minta Ibu menjemputku.
Rasa iri sempat menggerogoti jiwaku,
aku iri pada teman-temanku yang bisa lulus dengan cara instan.
Tanpa harus berjuang mati-matian,
Tanpa tahu rasanya belajar dari pagi hingga malam,
Tanpa tahu rasanya mengorbankan waktu,materi,tenaga,pikiran, bahkan mengorbankan orangtua.
Aku gagal di SNMPTN,
Aku juga sempat gagal di Politeknik Sriwijaya,
Ibuku padahal sempat mendorongku untuk ikut tes di sana tapi aku menolaknya, padahal bisa jadi itu jalanku.Apalagi Ibuku sangat mendorongku.Tapi aku tak acuh pada pilihan ibu.
Bukankah itu gagal namanya?
Aku pernah gagal mengikuti tes di Politeknik Kesehatan Palembang,
well,tidak sepenuhnya gagal..
Aku masuk di bagian cadangan,bukan sang lulus utama.
Aku hancur lebur di SBMPTN,
Dan saat kesempatan terakhir di jalur USM,
Hati kecilku berkata, "Ayo coba sekali lagi!"
Tapi aku tak dapat ridho dari kedua orangtua ku.
Dan intinya, aku gagal.
Tuhan tak meridhoi aku untuk berdiri gagah di Perguruan Tinggi Negeri.
Begitulah aku,
Terserah kau sebut aku apa,
"Mrs. Gagal"
"Ratu Gagal"
"Putri Sial"
Terserah.
Itulah aku...
Dengan pikiran sempit dan kekanak-kanakan,
Selama hampir seminggu,aku nyaris sulit bernafas dan menerima kenyataan yang ada.
Tapi,minggu berikutnya.
Dengan sholat tahajud,sholat duha dan sholat wajib lainnya...
Aku berhasil mengalahkan egoku.
Kini aku tahu,
Bahwa...
Tuhan maha mengetahui apa-apa saja yang tidak umatnya ketahui.
Tuhan sangat menyayangiku.
Sangat amat dalam aku merasakan itu.
Semua kegagalan yang kurasakan terasa manis saat ini,
kini aku dapat tersenyum lebar.
Aku tak malu lagi.
Ku biarkan teman-temanku sibuk selfie dengan almamater atau update di path bahwa ia sedang di PTN tempat ia belajar.
Aku kini memang bukan anak PTN, aku adalah anak PTS.
Kini aku melihat bahwa semua itu sama,
ilmu yang didapatkan sama saja, tergantung individu masing-masing..
Tergantung individu masing-masing bagaimana mereka mengembangkan ilmu tersebut.
Aku harus lebih keras lagi menggali ilmu yang ada di PTS.
IPK 2,8 di PTN memang lebih berharga dari IPK 3,2 di PTS.
Ya,kuakui itu. Itulah sebabnya aku bilang aku harus bekerja lebih keras di banding anak-anak PTN.
Aku bersyukur bisa berdiri di PTS,
Setidaknya, hal tersebut bisa membuatku tidak lupa diri.
Karena banyak teman-temanku di PTN,mereka kadang lupa diri. Mereka terlalu asik mengagungkan gengsi,hingga lupa tujuan utama mereka di perguruan tinggi apa.
Mereka terlalu asik memamerkan almamater mereka padahal belum menorehkan prestasi apapun,
Mereka terlalu bangga diri.
Mereka terlalu awam untuk menganggap bahwa anak PTN dijamin setelah lulus akan mudah dapat pekerjaan,sedangkan dunia masa kini... Sudah tidak ada jaminan lagi.
Disclaimer : Aku tidak menjelekkan siapapun ya, aku tidak menjelek-jelekkan PTN atau pun PTS. Kuakui masuk PTN tidak sembarangan, kakak laki-laki ku adalah mahasiswa PTN. Dan aku sadari, ia bukan orang sembarangan.
"Emas akan tetap jadi emas, walau itu dilumpur sekalipun..."
Kuhaturkan alhamdulillah atas semua kejadian yang menimpaku tahun 2014 ini.
Tahun ini memang terlalu buruk bagiku.
Tapi, aku masih penasaran akan rencana Tuhan 4 tahun mendatang,
akan jadi apa dunia 4 tahun mendatang.
Aku masih akan terus menunggu rencana-rencana indahnya.
Aku,
Aku memang mahasiswi Perguruan Tinggi Swasta,
dan aku adalah mahasiswi di FKIP Bahasa Inggris.
Setidaknya,Tuhan mengabulkan cita-cita yang sudah kutanam sejak kecil.
"Apa yang kita niatkan,sesungguhnya itu yang akan Tuhan berikan..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar