Baiklah, untuk kali ini saya akan mencoba membuat postingan yang cukup berfaedah, saya harap sih begitu. Kalaupun tidak ya, saya bisa apa? Hahaha.
Setelah sekian tahun saya tidak menulis, dan lantas saat saya membuka blog, saya di kagetkan oleh teman-teman pembaca yang menulis komentar di postingan saya 3 tahun lalu tentang cerita saya yang gagal SBMPTN. Ada yang ikut sharing karena merasakan hal yang sama, ada pula yang ikut mendoakan agar saya menjadi pendidik yang sukses kedepannya.
Terimakasih sekali saya ucapkan kepada teman-teman sekalian, saya pun berharap kalian sukses dibidang yang memang kalian minati dan tekuni tanpa ada rasa tertekan sama sekali ketika menggelutinya.
Rasanya memang sudah lama sekali ya peristiwa gagal itu, saya bahkan nyaris lupa kalau saya pernah gagal masuk PTN. Mungkin karena saya sudah terlalu menikmati bidang yang saya geluti di PTS? Bisa jadi. Saya sudah pernah bekerja saat saya semester 4 dan 5 waktu itu, dengan label PTS saya bisa lebih dulu merasakan dunia kerja daripada teman-teman saya di PTN.
Eits, jangan salah sangka dulu. Seperti yang saya tulis 3 tahun lalu, saya tidak bilang bahwa PTN buruk, kakak saya lulusan PTN dan dimata saya dia bukan orang sembarangan. Yang ingin saya tekankan disini adalah saya berusaha memperbaiki pola pikir masyarakat yang mendewakan PTN dan memiliki kecenderungan menganggap bahwa PTS adalah universitas yang isinya anak-anak buangan. Saya percaya setiap individual memiliki jalur untuk sukses masing-masing. Entah mereka di PTN ataupun PTS.
Dan kenapa label swasta hanya dipermasalahkan ketika sudah berada di jenjang Universitas? Kenapa pada saat SD,SMP, dan SMA para orang tua justru tidak mempermasalahkan anak-anak mereka di swasta ataupun negeri? Bukankah baik negeri ataupun swasta semua harus disamaratakan di segala jenjang pendidikan? Toh semua jenjang pendidikan memiliki satu tujuan yaitu, menuntut ilmu supaya cerdas. Sesuai tujuan pemerintah Indonesia di dalam isi pembukaan UUD 1945; "Mencerdaskan kehidupan bangsa."
Saya sangat amat bersyukur lahir dan besar dikeluarga demokratis. Ayah dan Ibu saya adalah orangtua yang sangat open-minded tapi tetap memegang teguh nilai-nilai moral. Ayah dan Ibu saya tidak pernah memandang satu pendidikan lebih baik dibanding pendidikan lainnya, mereka menganggap semua pendidikan adalah sama, semua pendidikan bertujuan untuk mendidik, mencerdaskan dan mengembangkan pola pikir setiap individu, bagi mereka dimanapun anak-anaknya mengenyam pendidikan, hasilnya tergantung pada anaknya bukan dimana anak mereka mengenyam pendidikan. Ayah dan Ibu saya pun adalah sosok yang tidak punya ekspetasi apapun terhadap cita-cita anaknya, mereka membebaskan kami menggapai cita-cita kami selagi hal tersebut positif.
Saya sangat menyayangkan orang tua diluar sana yang masih memiliki pola pikir yang sempit alias narrow-minded, yang masih mengganggap anak mereka
Saya menulis statement tersebut bukan tanpa alasan,
Jadi, dulu seperti yang saya katakan di awal, di semester 4 dan 5, saya sempat bekerja. Saya mengajar bahasa inggris. Dan saya memiliki seorang murid SMA, saat saya ajar dia masih kelas 2 SMA. Ketika saya tidak lagi mengajar, saya masih keep in touch dengannya. Sampai kabar terakhir yang saya dengar, dia gagal di semua tes masuk PTN. Dia bercerita bahwa ibunya sendiri melabelkan dia
Halo, ibu. Anakmu sudah cukup mengalami depresi karena gagal di segala tes. Dan kemudian anda dengan mudah melabelkan anak anda
Dia sudah berusaha keras, saya yakin dia belajar, saya yakin sekali mental nya sudah ketar-ketir bahkan jauh sebelum tes diadakan. Dia sudah cukup terbebani dengan semua itu, dia bukannya tidak berusaha untuk membuat anda bangga, dia berusaha setengah mati, tapi dia gagal menakhlukkan petarung-petarung PTN lainnya. Mungkin memang bukan di PTN jalannya, masih banyak jalan menuju Roma, masih banyak jalan menuju sukses, begitupun dengan anak anda.
Saya pernah membaca buku yang judulnya "You Can Win" karya Shiv Khera, disitu dia menuliskan bahwa;
A person can and will be successful with or without formal education if they have the 5Cs:
character, commitment, conviction, courtesy, and courage.
(Seseorang bisa dan akan sukses baik dengan pendidikan formal atau pun tidak dengan pendidikan formal apabila ia memiliki kriteria 5C: karakter, komitmen, keyakinan, sopan santun, dan keberanian)
See?
Yang tanpa jalur pendidikan formal saja bisa sukses, apalagi yang melalui jalur pendidikan formal, baik negeri ataupun swasta.
Semangat, semua!
Hidup kita tidak bisa dipukul rata sama dengan orang lain. Find your own pattern dan ikuti pattern hidup apa yang cocok untuk kamu, karena tidak semua pattern berhasil kamu terapkan. Kadangkala kamu memang harus menciptkan rumus/pattern hidupmu sendiri. Karena kamu adalah raja bagi dirimu sendiri.
So, be your own king!
See ya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar