Disaat perkuliahan saya di semester akhir, saya disibukkan dengan segudang aktivitas yang berkaitan dengan kuliah saya.
Skripsi, proposal, seminar, sidang dan teman-temannya yang lain.
Di semester itu saya harus menjalani satu mata kuliah yang di lakukan di luar kampus, yaitu KKL atau Kuliah Kerja Lapangan.
Sebelumnya, di semester lalu saya sudah menjalani PPL (Praktek Pengalaman Lapangan). Bedanya apa?
Bedanya, di PPL saya dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar, saya difokuskan untuk beraktivitas layaknya seorang guru.
Saya mengajar, membuat silabus, membuat program tahunan, program semester, dan membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) tentunya.
Sedangkan KKL, saya hanya dilibatkan di kegiatan kantor dan administrasi bagian tata usahanya. Seperti mendata siswa, mengurus program kerja dibidang kesiswaan dan kurikulum. Tapi, disaat KKL ini, tak jarang saya juga harus terjun ke kelas-kelas. Bukan untuk mengajar memang, tapi lebih kepada mengawasi para peserta didik.
Suatu ketika, saya dan teman-teman saya yang lain diperintahkan untuk melakukan razia/sidak ponsel siswa. Saya pribadi tidak ikut turun ke lapangan menggeledah ponsel siswa di kelas mereka masing-masing. Saya tetap di kantor. Setelah hampir 1 jam lebih, guru-guru kembali ke kantor membawa banyak ponsel. Tahukah kalian apa yang kami temukan di ponsel siswa-siswa kelas 1 dan 2 SMA itu?
Chat-sex, phone-sex, video-sex dan beberapa gambar siswi perempuan yang mengirim foto half-naked nya ke pacarnya.
Ya. Benar, itu temuan kami. Saya tercengang dibuatnya. Apakah ini cerminan anak bangsa saat ini?
Seluruh siswa yang ponselnya di razia wajib ke kantor dan saya melihat wajah-wajah mereka. Bahkan salah satu dari teman mereka ada yang tidak menyangka kalau salah satu temannya berprilaku begitu, karena si pelaku dikenal pendiam dan polos.
Saya sebagai mahasiswa KKL tidak bisa banyak ikut campur, karena yang menanyai siswa-siswa itu adalah guru sekolah tersebut. Satu hal yang saya sayangkan, pada saat introgasi, banyak sekali guru-guru yang mengerubuni siswa tersebut. Menurut saya, hal tersebut kurang etis sebenarnya dilakukan. Saya setuju bahwa sang siswa salah karena telah bertindak demikian. Tapi, tidak seharusnya sang siswa disudutkan oleh segerombol guru-guru kepo yang ingin tahu detail kasus tersebut. Baiknya memang satu guru saja yang mengintrogasi. Itu menurut saya sih.
Well, anyway. Lanjut...
Keesokan harinya, seluruh orangtua diwajibkan datang. Dan saya melihat raut malu dan menyesal terpancar betul di wajah mereka. Saya ingat betul, salah seorang bapak mengaku bahwa ia harus menyisihkan sebagian gajinya dan menabung demi membelikan sang anak ponsel. Tapi, perjuangan sang bapak dikecewakan anaknya yang melakukan chat-sex dengan pacarnya. Miris saya melihatnya.
Sebagai anak, kadang kali pemikiran egois masih sangat mendominasi.
"Ah ayahku jahat! Ayahku ga sayang anak.. semua temanku punya ponsel. Tapi aku tidak!"
"Ibuku benar-benar jahat. Aku hanya dibelikan ponsel murah sementara semua temanku ponselnya keluaran terbaru."
"Ayah dan ibu memang benar-benar tidak sayang aku. Yang kumau selalu tidak dituruti."
Padahal dibalik pemikiran "Ayah dan ibuku jahat" ada dua insan yang pontang panting banting tulang untuk menyelamatkan hidup sang anak. Paling tidak untuk si anak bisa makan dan bertahan hidup. Dua insan ini adalah ayah dan ibu yang kau bilang jahat itu.
Seringkali dibilang bahwa, "Kamu akan tau rasanya nanti setelah punya anak."
Saya pribadi kurang suka dengan 'ancaman' ini. Anak seharusnya tau perjuangan ayah dan ibunya tanpa harus mereka punya anak dulu.
Atas nama gengsi, anak-anak kadang menuduh ayah ibunya jahat.
Setelah permintaannya terkabul, ia akan berbuat semena-mena.
Lihat saja kasus siswa yang chat-sex, phone-sex, dan video-sex itu...
Saya harus jujur, sekolah tempat saya KKL adalah tipikal sekolah yang siswa-siswinya menengah kebawah alias kurang mampu.
Saya menyaksikan betul kisah para orangtua dari anak-anak tak tahu terimakasih ini.
Mereka adalah tukang becak, pedagang pasar, satpam, dan lain sebagainya.
Energi, jiwa dan raga mereka tercurah untuk keluarga. Untuk anak khususnya.
Namun balasannya?
Prilaku asusila!
Kalau ingin anak paham, kenapa harus menunggu setelah mereka punya anak?
Anak-anak harus tau, cinta kasih orangtua mereka luar biasa.
Bahkan orang tua telah memaafkan kalian yang telah menggoreskan luka dan malu bagi mereka.