Sudah dua tahun saya menjadi guru di salah satu SDIT di kota Palembang. Tahun pertama terasa baik-baik saja. Saya mengajar setiap pagi hingga 15.00, terkadang hingga sore.
Mengajar di hadapan 24 siswa-siswi mungil. Bercengkrama dengan mereka, mendengar tangisan mereka karena saling berkelahi, mendengar aduan mereka perihal hal-hal kecil semacam pensilnya hilang atau diambil teman, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan polos mereka seperti "Miss, Nabi Muhammad ada dimana?"
Enam bulan berlalu, di semester kedua sebuah pandemi datang mencekam dunia, yap... virus corona alias covid-19. Semua sekolah ditutup, kami (guru dan murid) tidak diperkenankan untuk bertemu. "New normal" diperkenalkan, semua orang mendadak menjaga jarak, pelukan bukan lagi tanda sayang namun tanda bahaya. Semua orang diharuskan menggunakan masker, nafas manusia dibatasi oleh masker agar tak terpapar virus membahayakan ini.
Mendadak semua anak-anak dirumahkan. Para orangtua mendadak mengambil alih tongkat sebagai pengajar. Para guru mendadak di paksa untuk kreatif dan inovatif serta melek teknologi.
Ya, benar.. semua serba mendadak. Tidak ada yang menyangka dampak pandemi sebegitu besarnya hingga seluruh lapisan masyarakat terkena dampaknya. Dunia terdiam, dunia hening. Para pakar sibuk menakar hingga ke akar, apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Saya sebagai guru. Saya bekerja di sektor pendidikan. Sungguh, sangat merasakan dampaknya. Saya kehilangan tangis dan tawa anak-anak hebat saya. Saya tak dapat lagi mengelus rambut mereka tatkala mereka melakukan sebuah tindakan baik. Tak ada lagi tatap muka, tak ada lagi gelak tawa dalam kelas.
Saat tahun ajaran dimulai, saya sempat mengunjungi sekolah yang hampir tiga bulan lebih tidak dihuni. Saya masuk ke kelas saya, nyaris jatuh airmata melihat kelas kesayangan saya penuh dengan debu, terlihat tulisan saya yang saya gores dengan tinta spidol masih menempel di papan tulis, tulisan tiga bulan yang lalu.
Sekarang, saya sudah mengajar murid-murid baru saya ditahun pelajaran yang baru. Namun tatap muka hanya angan, kami hanya bertukar gelak tawa via zoom. Saya tak pernah sempat bertemu dengan murid-murid baru saya.
Saya dituntut untuk kreatif agar anak-anak tetap bisa stay di kursi, duduk menatap laptop atau handphone nya, dan mendengar penjelasan saya. Kerjasama antar saya dan walimurid pun di haruskan, hampir setiap hari saya menerima kiriman foto dari walimurid, kemudian saya nilai dan saya kembalikan lagi ke mereka.
Saya paham sekali, tentunya jenuh sudah menggebu diantara kami. Baik anak-anak yang jiwa bermainnya terenggut, walimurid yang harus pintar membagi waktu antar pekerjaan rumah dan mengatur anak-anak belajar, dan saya sebagai pendidik.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan?
Pasrah dan bersyukur.
Hanya itu.
Karena yang merasakan, bukan hanya kita. Bukan hanya sektor pendidikan, namun juga ekonomi, kesehatan dan lain-lain. Bukan hanya negara Indonesia, namun juga seluruh dunia.
Harapannya, semoga pandemi ini lekas diberi solusi. Semoga jiwa anak-anak kembali bebas.
Jaga kesehatan selalu ya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar