Banyak pasang mata yang menatap saya.
Namun sangking gugupnya, saya hanya tersenyum, dan melanjutkan dzikir-dzikir saya.
Hari itu saya menikah.
Tepat pukul 09.00 pagi, penghulu sudah datang. Tangan ayah saya menjabat seorang laki-laki yang sudah saya kenal sejak empat tahun lalu.
Dengan mengucapkan Ijab Qabul, para saksi mengucapkan sah. Dan kini laki-laki itu yang saya sebut "suami".
Saya keluar dengan mata berkaca-kaca. Menggandeng kedua kakak lelaki saya menghampiri suami saya.
Saya sungguh tidak menyangka bahwa sahabat sayalah yang akan menjadi suami saya.
Lima hari sesudah menikah, saya diboyong ke kota dimana suami saya mengais rezeki.
Tangis haru pun pecah tatkala saya dibantu Ibu packing mempersiapkan peralatan saya.
Ibu sudah seperti sahabat buat saya, Ibu adalah cinta mati saya. Rasanya saya tidak bisa membayangkan kalau tidak ada Ibu.
Namun, saya harus berpisah dengan belahan jiwa saya, Ibu saya.
Ibu adalah sahabat saya. Tempat saya mencurahkan isi hati, tempat saya bergosip, tempat saya berdiskusi. Kini, hidup saya sudah berpindah tangan ke sahabat saya yang lain, yakni suami saya.
Begitu mandirinya kami, hingga pergi ke perantauanpun kami hanya berdua, tanpa dampingan orangtua kami.
Sesampainya di tanah rantau, saya menangis.
Saya takkan lagi bisa dengan mudahnya melihat Ibu saya. Ibu saya sudah jauh di kota sana.
Cukup lama saya menerima kenyataan tersebut.
Berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan saya selalu menangis nyaris setiap hari.
Merindukan Ibu saya dan pelukan hangatnya.
Namun,
Rasa bahagiapun menyelimuti hidup saya ketika saya tahu, suami saya yang juga merupakan sahabat saya lah yang akan menemani saya.
Betapa beruntungnya saya,
Memiliki sahabat seumur hidup di hari-hari saya.
Teman diskusi adalah suami saya.
Teman berkeluh kesah adalah suami saya.
Teman konyol yang membuat gelak tawa adalah suami saya.
Teman bergunjing dan nyinyir adalah suami saya.
Teman berkelahi adalah suami saya.
Teman berbagi suka dan duka juga adalah suami saya.
Saya senang, suami saya selalu melibatkan saya kedalam diskusi tatkala kami akan mengambil keputusan-keputusan.
Suami takkan sibuk memenangkan egonya sendiri.
Betapa beruntungnya saya,
Karena bisa menikah dengan sahabat saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar