Minggu, 12 Desember 2021

Si Bungsu, Sang Perantau

 Aku ingat betul, lima hari setelah aku resmi menikah dengan suamiku. Aku dan suami berangkat ke kota perantauanku, tempat suamiku bekerja.

Masih teringat jelas betapa mendalamnya tangisanku kala mengemas baju-bajuku, dan larut dalam tangisan sembari memeluk Ibuku, sahabatku, rumahku, supporter utamaku, garda terdepanku, segalanya bagiku.

Kulihat Ayahku, cinta pertamaku itu berusaha kuat dan tegar melepas si bungsunya bersama pria pilihan putrinya untuk merantau. Tangisku pecah dalam pelukannya, terlebih Ayah selalu berbisik, "Jangan tinggalkan sholatmu, nak." setiap aku berpamitan dan memeluknya.

Aku berangkat malam kala itu, perjalanan ditempuh dalam kurun waktu empat hingga lima jam perjalanan. Sepanjang jalan aku hanya menahan tangis . . .

Pagi pun datang, aku ingat hari itu hari Jumat, tanggal 28 Mei 2021, pertama kalinya aku menginjakkan kaki ditanah perantauan kami ini.

Sesampainya dirumah yang ditinggali suamiku, tangisku pecah. Air mataku tak terbendung, hatiku hancur, aku belum kuasa menerima realita bahwa aku harus terpisah jauh dari Ayah & Ibuku.

Aku adalah si Bungsu yang selalu membuntuti Ibuku.

Aku tidak pernah pisah dari Ayah & Ibu selama 25 tahun fase kehidupanku. Terlebih dengan Ibu.

Alhamdulillah, aku memiliki Ibu dengan daya peka yang mutahir, keterbukaannya terhadap perkembangan zaman sangatlah patut diacungi jempol, sikapnya yang tak pernah menutup diri untuk belajar memahami anak-anaknya sangatlah sulit dilakukan oleh generasi beliau.

Karena itulah, anak-anak Ibu sangat dekat dengannya. Terlebih aku, sebagai si Bungsu dan anak gadis satu-satunya yang terpaksa harus berpisah dengannya.

Sejak kecil hingga kuliah pun, aku selalu diantar dan dijemput Ibu atau pun Ayah. Sejauh apapun akan mereka tempuh, untukku.

Pergi jalan-jalanpun, orang yang akan aku ajak adalah Ibu. Bercerita tentang apapun sembari rebahan di kasur adalah rutinitas harian kami. Bahkan, aku harus memeluk Ibu setiap hari, hal tersebut selalu kusempatkan. Entah sejak kapan kebiasaan itu terjadi, tapi itulah yang kuingat.

Aku adalah anak Ibu yang lumayan picky dalam hal makanan. Namun, meski dibalut omelan, Ibu selalu membelikan lauk terpisah buatku, atau pergi naik motor mencarikan lauk untukku kemudian menyimpannya di lemari atau atas beras, agar dapat kumakan. Sepele memang, tapi bagiku itulah pengorbanan.

Kemudian diusiaku yang ke-25 aku harus dihadapkan pada realita bahwa aku tidak bisa lagi satu rumah dengan Ibu & Ayah, bahkan satu kota pun tak bisa. Pedih lah aku.

Di awal-awal pernikahan, tangisku sering kali pecah, ketika aku berada sendirian dirumah ketika suamiku bekerja. Melihat pagar rumahku, sambil membatin, "Betapa sulitnya aku menjangkau rumah Ibuku. Takkan mudah bagiku untuk mengunjunginya kapanpun aku mau."

Berbagai cara untuk beradaptasi pun aku lakukan. Mulai dari membaur dengan Ibu-Ibu komplek saat membeli sayur, mengobrol dengan istri dari teman-teman suamiku, atau bercengkrama dengan anak dari tetangga samping kiriku yang luar biasa bawel dan pintar.

Perlahan-lahan, aku mulai terbiasa.

Meskipun begitu, walau hidup di perantauan, Ibu tetap adalah orang yang ku cari saat aku kesulitan memasak. Mengingat aku jarang sekali turun kedapur semasa gadisku, hehe.

Untungnya, dengan kecanggihan teknologi, aku bisa video-call dengan Ibu. Menanyakan tahapan demi tahapan cara memasak sayur asem atau pempek, atau bahkan cara memotong ayam pun Ibu lah yang ku cari.

Menelpon Ibu adalah rutinitasku kini. Menghubungi beliau setiap hari atau paling tidak dua hari sekali. Bertukar kabar dan cerita tetap dilakukan oleh kami berdua atau bergosip menceritakan tingkah-tinggah kocak Ayah adalah hal rutin yang aku dan Ibu lakukan.

Meskipun terpisah jauh, aku tetap berusaha keep in touch melalui ponsel dengan Ayah & Ibu. Paling tidak, itulah salah satu cara agar aku tetap bisa menjaga mereka.

Di kehamilanku yang memasuki usia kandungan ketiga bulan yang lalu, Ayah & Ibu berkunjung ke kota perantauanku. Karena aku seringkali mengeluh pusing dan mual-mual tiap kali masak. Aku rindu sekali masakan Ibu. Bahagia benar-benar terasa di dalam rumah. Aku bisa tertawa terbahak-bahak dengan lelucon Ayah. Aku bisa bercerita berbagai hal dengan Ibu, dan aku bisa memeluk Ibu ketika sedang rebahan.

Sayangnya, tentu hal tersebut tidak bisa selamanya dilakukan. Ayah & Ibu menjengukku hanya selama dua minggu. Yah, setidaknya dapat mengobati rasa rinduku kepada kedua orangtua yang begitu aku kasihi.

Kini, usia kehamilanku semakin membesar, sudah memasuki usia kandungan ke enam bulan.

Entah kenapa, rasa rindu akan Ibu & Ayah kembali tak terbendung. Rasanya hampir dua minggu lebih aku selalu menangis, merindukan Ibu & Ayah ku yang jauh disana.

Perasaan kalut akan hari tua mereka, mulai menghantuiku. Aku sebagai anak perempuan satu-satunya merasa memiliki tanggung jawab untuk merawat mereka di hari tuanya.

Sementara dengan kondisiku yang jauh ini, aku sedikit memiliki perasaan bersalah. Tanganku tak lagi dapat dengan mudah menggapai mereka, untuk sekadar mengurut tubuh letih Ibu karena seharian memasak atau mengoles aloe vera ke kaki Ayah yang kering.

Entah karena akan menjadi seorang Ibu, perasaan rinduku terhadap Ibu kian tak terbendung.

Setiap kali aku merasa kesakitan dalam kehamilanku, air mata tanpa sadar seringkali menetes di pipiku. Sembari membayangkan, betapa sulitnya juga Ibu saat mengandungku.

Aku merasa masih rindu menjadi anak Ayah & Ibu. Aku masih rindu bermanja-manja dengan mereka.

Namun, mustahil rasanya.

Ah, menjadi seorang perantau mengajarkan aku untuk lebih menghargai momen & waktu.

Selama 25 tahun, aku merasa keberadaan Ayah & Ibu adalah hal yang biasa. Hanya sebatas formalitas bahwa dalam rumah normalnya ada Ayah, Ibu & Anak-anak. Momen kebersamaan kami pun pada akhirnya hanya sebagai rutinitas biasa saja.

Rupanya ketika aku melangkah ke dunia luar, kehadiran Ayah & Ibu adalah nikmat yang harus selalu aku syukuri. Sehatnya mereka kini adalah kabar baik bagiku. Momen bersama mereka adalah sesuatu yang harus aku apresiasi.

Orangtua ku adalah rumahku untuk pulang. Dan aku harap aku pun bisa menjadi rumah bagi Ayah & Ibuku untuk pulang.

Doaku, semoga Ayah & Ibu selalu dalam lindungan dan keberkahan Allah.

Semoga kami kelak akan berkumpul bersama di Jannah nya Allah. Aamiin 🤍

Kamis, 09 Desember 2021

Lahir Menjadi Seorang Ibu

Kini usia kehamilanku memasuki bulan ke enam. Sebentar lagi, aku akan berpisah dengan "honeymoon period" dalam kehamilan, kata orang-orang, alias Trimester 2.

Beberapa perubahan signifikan sudah terjadi dalam tubuhku dan pola hidupku.

Misalnya, tak sanggup lagi sholat dalam kondisi berdiri, kini akupun sholat dengan bantuan kursi alias duduk.

Posisi tidurku juga mengalami perubahan yang lumayan menguras energi serta emosiku. Aku tak lagi bisa berbaring dengan nyaman. Beban diperutku terasa sangat kencang. Sulit sekali sekarang bagiku untuk mencari posisi tidur dengan nyaman. Terkadang ku balikkan tubuh ke kiri, dua atau tiga menit berikutnya akan kuubah lagi posisi tidurku ke arah kanan, bahkan rasa ngos-ngosan saat mengatur posisi tidur sudah sering kurasakan.

Hingga perasan kalut, cemas, takut, dan sedih pun turut serta dalam proses perubahanku menjelang kelahiran anak pertamaku ini.

Hal ini bukan karena suamiku yang kurang kasih sayang, tentu tidak.

Beliau adalah suami siaga. Suamiku takkan tidur sebelum memastikan aku sudah terlelap dalam tidurku.

Suamiku selalu memastikan, apapun yg aku butuhkan telah terpenuhi. Ia akan berusaha mencukupinya.

Perasaan-perasaan semacam itu muncul begitu saja, oh tentu tidak.

Aku yakin sudah pasti ada pemicunya.

Yang ku yakini, kesendirianku saat suami bekerja hingga sore rupanya membuat perasaan-perasaan tak mengenakkan tersebut berkuasa dalam dadaku.

Terlebih aku dan suami adalah seorang perantau. Jauh dari orang tua, jauh dari Ibu, perempuan yang sangat ku kasihi.

Jauh dari Ibu dalam kondisi hamil seperti sekarang ini, membuat perasaan kalutku semakin menjadi.

Sering sekali, aku menangis sendirian tatkala aku merenung sendirian dalam rumah. Sembari berandai-andai, ah andai aku dan Ibu masih dalam satu kota yang sama. Betapa senangnya aku. Aku bisa mengunjungi Ibu kapanpun, begitu pula sebaliknya.

Aku benar-benar sendirian ketika suamiku bekerja. Aku harus mengurus diriku sendiri tanpa bantuan Ibuku, sang penyelamatku.

Kini aku harus menyelamatkan diriku sendiri dan juga bayi dalam kandunganku.

Terkadang, layaknya Ibu-Ibu hamil pada umumnya, mual dan muntah rasanya lumrah terjadi, bukan?

Termasuk pada diriku, bedanya aku muntah tak ditemani siapapun, ketika suamiku berada diluar untuk bekerja.

Sering kali aku sampai menangis sendirian dalam kamar mandi, hingga bergetar tanganku menyiram bekas muntahanku.

Ya Tuhan, aku sendirian. Batinku dalam hati.

Berjuang sendirian, demi bayiku.

Tanpa sentuhan tangan Ibuku yang membantuku.

Aku harus memenuhi gizi anakku sendirian, aku memikirkan masakan yang harus kumakan agar gizi anakku di dalam rahim terpenuhi.

Tidak ada tangan Ibu yang menyodorkan makanan untukku, seperti dulu.

Memang semenjak menjelang bulan ke enam ini, perasaan rindu akan sosok Ibu begitu berkecamuk dalam hatiku.

Entah karena diriku mulai tak berdaya, hingga aku butuh sang penyelamat hidupku itu.

Seperti semalam, aku memimpikan Ibu. Hingga aku terbangun dalam keadaan menangis. Suamiku langsung mendekapku, menenangkan aku hingga aku tenang.

Aku rindu Ibu.

Setiap kali aku mengalami kesakitan selama kehamilanku, aku selalu menangis, teringat sosok Ibu.

Teringat sosok Ibuku yang tangguh.

Batinku berujar, "Seperti inilah dulu Ibu saat mengandungku."

Semakinlah aku larut dalam kesedihan.

Aku butuh Ibu. Aku rindu dekapannya.

Aku ingin bercerita betapa belum puasnya aku menjadi seorang anaknya, namun aku harus siap menjadi seorang Ibu bagi cucunya.

Jarak kotaku ke kota Ibu memang tak jauh, hanya 4 sampai 5 jam saja.

Namun, tetap saja, kami di kota yang berbeda. Tak kan bisa aku dengan semena-mena berkunjung ke rumah Ibu. Aku harus mempersiapkan ini dan itu, belum lagi suamiku harus mengurus cuti, repot!

Berbeda halnya jika aku dan Ibu hidup di kota yang sama. Hitungan menit, aku bisa langsung sampai dirumah Ibu. Duduk sekitar 2 atau 3 jam pun dirasa cukup, kemudian pulang. Sangat sederhana.

Apalagi, aku seorang anak perempuan. Aku merasa memiliki kewajiban tak tertulis, untuk mengurus dan memantau Ayah & Ibu.

Memang, hubungan anak dan orang tua bukanlah perkara transaksional.

Bukan tentang anak harus membalas jasa dan jerih payah yang telah di korbankan orang tua.

Memang tak ada peraturan tertulis bahwa sebagai anak, kita harus merawat orangtua kita.

Namun, nuraniku berkata, hubunganku dengan orangtua memang bukan perkara transaksional balas membalas, namun ini perkara kasih sayang.

Kasih sayang yang selama aku hidup dicurahkan oleh Ayah & Ibuku lah yang menumbuhkan rasa tanggung jawabku untuk mengurus mereka di hari tuanya.

Namun, karena kondisiku diperantauan, hal-hal tersebut tak dapat kupenuhi dengan maksimal. Hanya doa yang dapat ku panjatkan untuk Ayah & Ibuku.

Perasaan cemas juga menghantuiku, cemas apakah aku bisa melahirkan dengan lancar? Apakah anakku sehat, anggota tubuhnya lengkap, normalkah ia?

Semua pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku. Takut tak bisa maksimal menjadi Ibu. Takut tak bisa menjadi suri tauladan bagi anak laki-lakiku ini.

Semoga perasaan-perasaan yang menderaku ini lekas hilang. Semoga aku bisa merdeka menjalani hidup di perantauan.

Aku berdoa agar Ayah & Ibuku senantiasa sehat dan berada dalam lindungan Allah.

Sekali lagi, dengan kondisiku di perantauan, hanya doa yang bisa kutitipkan melalui tangan Tuhan, biarlah tangan-Nya yang menjaga Ayah & Ibu ketika tanganku kini tak lagi mampu merangkul mereka dari dekat.