Kamis, 09 Desember 2021

Lahir Menjadi Seorang Ibu

Kini usia kehamilanku memasuki bulan ke enam. Sebentar lagi, aku akan berpisah dengan "honeymoon period" dalam kehamilan, kata orang-orang, alias Trimester 2.

Beberapa perubahan signifikan sudah terjadi dalam tubuhku dan pola hidupku.

Misalnya, tak sanggup lagi sholat dalam kondisi berdiri, kini akupun sholat dengan bantuan kursi alias duduk.

Posisi tidurku juga mengalami perubahan yang lumayan menguras energi serta emosiku. Aku tak lagi bisa berbaring dengan nyaman. Beban diperutku terasa sangat kencang. Sulit sekali sekarang bagiku untuk mencari posisi tidur dengan nyaman. Terkadang ku balikkan tubuh ke kiri, dua atau tiga menit berikutnya akan kuubah lagi posisi tidurku ke arah kanan, bahkan rasa ngos-ngosan saat mengatur posisi tidur sudah sering kurasakan.

Hingga perasan kalut, cemas, takut, dan sedih pun turut serta dalam proses perubahanku menjelang kelahiran anak pertamaku ini.

Hal ini bukan karena suamiku yang kurang kasih sayang, tentu tidak.

Beliau adalah suami siaga. Suamiku takkan tidur sebelum memastikan aku sudah terlelap dalam tidurku.

Suamiku selalu memastikan, apapun yg aku butuhkan telah terpenuhi. Ia akan berusaha mencukupinya.

Perasaan-perasaan semacam itu muncul begitu saja, oh tentu tidak.

Aku yakin sudah pasti ada pemicunya.

Yang ku yakini, kesendirianku saat suami bekerja hingga sore rupanya membuat perasaan-perasaan tak mengenakkan tersebut berkuasa dalam dadaku.

Terlebih aku dan suami adalah seorang perantau. Jauh dari orang tua, jauh dari Ibu, perempuan yang sangat ku kasihi.

Jauh dari Ibu dalam kondisi hamil seperti sekarang ini, membuat perasaan kalutku semakin menjadi.

Sering sekali, aku menangis sendirian tatkala aku merenung sendirian dalam rumah. Sembari berandai-andai, ah andai aku dan Ibu masih dalam satu kota yang sama. Betapa senangnya aku. Aku bisa mengunjungi Ibu kapanpun, begitu pula sebaliknya.

Aku benar-benar sendirian ketika suamiku bekerja. Aku harus mengurus diriku sendiri tanpa bantuan Ibuku, sang penyelamatku.

Kini aku harus menyelamatkan diriku sendiri dan juga bayi dalam kandunganku.

Terkadang, layaknya Ibu-Ibu hamil pada umumnya, mual dan muntah rasanya lumrah terjadi, bukan?

Termasuk pada diriku, bedanya aku muntah tak ditemani siapapun, ketika suamiku berada diluar untuk bekerja.

Sering kali aku sampai menangis sendirian dalam kamar mandi, hingga bergetar tanganku menyiram bekas muntahanku.

Ya Tuhan, aku sendirian. Batinku dalam hati.

Berjuang sendirian, demi bayiku.

Tanpa sentuhan tangan Ibuku yang membantuku.

Aku harus memenuhi gizi anakku sendirian, aku memikirkan masakan yang harus kumakan agar gizi anakku di dalam rahim terpenuhi.

Tidak ada tangan Ibu yang menyodorkan makanan untukku, seperti dulu.

Memang semenjak menjelang bulan ke enam ini, perasaan rindu akan sosok Ibu begitu berkecamuk dalam hatiku.

Entah karena diriku mulai tak berdaya, hingga aku butuh sang penyelamat hidupku itu.

Seperti semalam, aku memimpikan Ibu. Hingga aku terbangun dalam keadaan menangis. Suamiku langsung mendekapku, menenangkan aku hingga aku tenang.

Aku rindu Ibu.

Setiap kali aku mengalami kesakitan selama kehamilanku, aku selalu menangis, teringat sosok Ibu.

Teringat sosok Ibuku yang tangguh.

Batinku berujar, "Seperti inilah dulu Ibu saat mengandungku."

Semakinlah aku larut dalam kesedihan.

Aku butuh Ibu. Aku rindu dekapannya.

Aku ingin bercerita betapa belum puasnya aku menjadi seorang anaknya, namun aku harus siap menjadi seorang Ibu bagi cucunya.

Jarak kotaku ke kota Ibu memang tak jauh, hanya 4 sampai 5 jam saja.

Namun, tetap saja, kami di kota yang berbeda. Tak kan bisa aku dengan semena-mena berkunjung ke rumah Ibu. Aku harus mempersiapkan ini dan itu, belum lagi suamiku harus mengurus cuti, repot!

Berbeda halnya jika aku dan Ibu hidup di kota yang sama. Hitungan menit, aku bisa langsung sampai dirumah Ibu. Duduk sekitar 2 atau 3 jam pun dirasa cukup, kemudian pulang. Sangat sederhana.

Apalagi, aku seorang anak perempuan. Aku merasa memiliki kewajiban tak tertulis, untuk mengurus dan memantau Ayah & Ibu.

Memang, hubungan anak dan orang tua bukanlah perkara transaksional.

Bukan tentang anak harus membalas jasa dan jerih payah yang telah di korbankan orang tua.

Memang tak ada peraturan tertulis bahwa sebagai anak, kita harus merawat orangtua kita.

Namun, nuraniku berkata, hubunganku dengan orangtua memang bukan perkara transaksional balas membalas, namun ini perkara kasih sayang.

Kasih sayang yang selama aku hidup dicurahkan oleh Ayah & Ibuku lah yang menumbuhkan rasa tanggung jawabku untuk mengurus mereka di hari tuanya.

Namun, karena kondisiku diperantauan, hal-hal tersebut tak dapat kupenuhi dengan maksimal. Hanya doa yang dapat ku panjatkan untuk Ayah & Ibuku.

Perasaan cemas juga menghantuiku, cemas apakah aku bisa melahirkan dengan lancar? Apakah anakku sehat, anggota tubuhnya lengkap, normalkah ia?

Semua pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku. Takut tak bisa maksimal menjadi Ibu. Takut tak bisa menjadi suri tauladan bagi anak laki-lakiku ini.

Semoga perasaan-perasaan yang menderaku ini lekas hilang. Semoga aku bisa merdeka menjalani hidup di perantauan.

Aku berdoa agar Ayah & Ibuku senantiasa sehat dan berada dalam lindungan Allah.

Sekali lagi, dengan kondisiku di perantauan, hanya doa yang bisa kutitipkan melalui tangan Tuhan, biarlah tangan-Nya yang menjaga Ayah & Ibu ketika tanganku kini tak lagi mampu merangkul mereka dari dekat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar