Aku ingat betul, lima hari setelah aku resmi menikah dengan suamiku. Aku dan suami berangkat ke kota perantauanku, tempat suamiku bekerja.
Masih teringat jelas betapa mendalamnya tangisanku kala mengemas baju-bajuku, dan larut dalam tangisan sembari memeluk Ibuku, sahabatku, rumahku, supporter utamaku, garda terdepanku, segalanya bagiku.
Kulihat Ayahku, cinta pertamaku itu berusaha kuat dan tegar melepas si bungsunya bersama pria pilihan putrinya untuk merantau. Tangisku pecah dalam pelukannya, terlebih Ayah selalu berbisik, "Jangan tinggalkan sholatmu, nak." setiap aku berpamitan dan memeluknya.
Aku berangkat malam kala itu, perjalanan ditempuh dalam kurun waktu empat hingga lima jam perjalanan. Sepanjang jalan aku hanya menahan tangis . . .
Pagi pun datang, aku ingat hari itu hari Jumat, tanggal 28 Mei 2021, pertama kalinya aku menginjakkan kaki ditanah perantauan kami ini.
Sesampainya dirumah yang ditinggali suamiku, tangisku pecah. Air mataku tak terbendung, hatiku hancur, aku belum kuasa menerima realita bahwa aku harus terpisah jauh dari Ayah & Ibuku.
Aku adalah si Bungsu yang selalu membuntuti Ibuku.
Aku tidak pernah pisah dari Ayah & Ibu selama 25 tahun fase kehidupanku. Terlebih dengan Ibu.
Alhamdulillah, aku memiliki Ibu dengan daya peka yang mutahir, keterbukaannya terhadap perkembangan zaman sangatlah patut diacungi jempol, sikapnya yang tak pernah menutup diri untuk belajar memahami anak-anaknya sangatlah sulit dilakukan oleh generasi beliau.
Karena itulah, anak-anak Ibu sangat dekat dengannya. Terlebih aku, sebagai si Bungsu dan anak gadis satu-satunya yang terpaksa harus berpisah dengannya.
Sejak kecil hingga kuliah pun, aku selalu diantar dan dijemput Ibu atau pun Ayah. Sejauh apapun akan mereka tempuh, untukku.
Pergi jalan-jalanpun, orang yang akan aku ajak adalah Ibu. Bercerita tentang apapun sembari rebahan di kasur adalah rutinitas harian kami. Bahkan, aku harus memeluk Ibu setiap hari, hal tersebut selalu kusempatkan. Entah sejak kapan kebiasaan itu terjadi, tapi itulah yang kuingat.
Aku adalah anak Ibu yang lumayan picky dalam hal makanan. Namun, meski dibalut omelan, Ibu selalu membelikan lauk terpisah buatku, atau pergi naik motor mencarikan lauk untukku kemudian menyimpannya di lemari atau atas beras, agar dapat kumakan. Sepele memang, tapi bagiku itulah pengorbanan.
Kemudian diusiaku yang ke-25 aku harus dihadapkan pada realita bahwa aku tidak bisa lagi satu rumah dengan Ibu & Ayah, bahkan satu kota pun tak bisa. Pedih lah aku.
Di awal-awal pernikahan, tangisku sering kali pecah, ketika aku berada sendirian dirumah ketika suamiku bekerja. Melihat pagar rumahku, sambil membatin, "Betapa sulitnya aku menjangkau rumah Ibuku. Takkan mudah bagiku untuk mengunjunginya kapanpun aku mau."
Berbagai cara untuk beradaptasi pun aku lakukan. Mulai dari membaur dengan Ibu-Ibu komplek saat membeli sayur, mengobrol dengan istri dari teman-teman suamiku, atau bercengkrama dengan anak dari tetangga samping kiriku yang luar biasa bawel dan pintar.
Perlahan-lahan, aku mulai terbiasa.
Meskipun begitu, walau hidup di perantauan, Ibu tetap adalah orang yang ku cari saat aku kesulitan memasak. Mengingat aku jarang sekali turun kedapur semasa gadisku, hehe.
Untungnya, dengan kecanggihan teknologi, aku bisa video-call dengan Ibu. Menanyakan tahapan demi tahapan cara memasak sayur asem atau pempek, atau bahkan cara memotong ayam pun Ibu lah yang ku cari.
Menelpon Ibu adalah rutinitasku kini. Menghubungi beliau setiap hari atau paling tidak dua hari sekali. Bertukar kabar dan cerita tetap dilakukan oleh kami berdua atau bergosip menceritakan tingkah-tinggah kocak Ayah adalah hal rutin yang aku dan Ibu lakukan.
Meskipun terpisah jauh, aku tetap berusaha keep in touch melalui ponsel dengan Ayah & Ibu. Paling tidak, itulah salah satu cara agar aku tetap bisa menjaga mereka.
Di kehamilanku yang memasuki usia kandungan ketiga bulan yang lalu, Ayah & Ibu berkunjung ke kota perantauanku. Karena aku seringkali mengeluh pusing dan mual-mual tiap kali masak. Aku rindu sekali masakan Ibu. Bahagia benar-benar terasa di dalam rumah. Aku bisa tertawa terbahak-bahak dengan lelucon Ayah. Aku bisa bercerita berbagai hal dengan Ibu, dan aku bisa memeluk Ibu ketika sedang rebahan.
Sayangnya, tentu hal tersebut tidak bisa selamanya dilakukan. Ayah & Ibu menjengukku hanya selama dua minggu. Yah, setidaknya dapat mengobati rasa rinduku kepada kedua orangtua yang begitu aku kasihi.
Kini, usia kehamilanku semakin membesar, sudah memasuki usia kandungan ke enam bulan.
Entah kenapa, rasa rindu akan Ibu & Ayah kembali tak terbendung. Rasanya hampir dua minggu lebih aku selalu menangis, merindukan Ibu & Ayah ku yang jauh disana.
Perasaan kalut akan hari tua mereka, mulai menghantuiku. Aku sebagai anak perempuan satu-satunya merasa memiliki tanggung jawab untuk merawat mereka di hari tuanya.
Sementara dengan kondisiku yang jauh ini, aku sedikit memiliki perasaan bersalah. Tanganku tak lagi dapat dengan mudah menggapai mereka, untuk sekadar mengurut tubuh letih Ibu karena seharian memasak atau mengoles aloe vera ke kaki Ayah yang kering.
Entah karena akan menjadi seorang Ibu, perasaan rinduku terhadap Ibu kian tak terbendung.
Setiap kali aku merasa kesakitan dalam kehamilanku, air mata tanpa sadar seringkali menetes di pipiku. Sembari membayangkan, betapa sulitnya juga Ibu saat mengandungku.
Aku merasa masih rindu menjadi anak Ayah & Ibu. Aku masih rindu bermanja-manja dengan mereka.
Namun, mustahil rasanya.
Ah, menjadi seorang perantau mengajarkan aku untuk lebih menghargai momen & waktu.
Selama 25 tahun, aku merasa keberadaan Ayah & Ibu adalah hal yang biasa. Hanya sebatas formalitas bahwa dalam rumah normalnya ada Ayah, Ibu & Anak-anak. Momen kebersamaan kami pun pada akhirnya hanya sebagai rutinitas biasa saja.
Rupanya ketika aku melangkah ke dunia luar, kehadiran Ayah & Ibu adalah nikmat yang harus selalu aku syukuri. Sehatnya mereka kini adalah kabar baik bagiku. Momen bersama mereka adalah sesuatu yang harus aku apresiasi.
Orangtua ku adalah rumahku untuk pulang. Dan aku harap aku pun bisa menjadi rumah bagi Ayah & Ibuku untuk pulang.
Doaku, semoga Ayah & Ibu selalu dalam lindungan dan keberkahan Allah.
Semoga kami kelak akan berkumpul bersama di Jannah nya Allah. Aamiin 🤍
Tidak ada komentar:
Posting Komentar