Rabu, 09 Februari 2022

Pernikahan Jarak Jauh

 Kini usia kehamilanku memasuki bulan ke delapan.

Aku, si perantau ini, akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman untuk melahirkan di kampung halamanku, bersama orangtua dan sanak saudara.

Keputusan untuk melahirkan di kampung halaman sebenarnya cukup mendadak, hal tersebut kuputuskan di usia tujuh bulan kehamilanku.

Lantas, diskusi panjang pun aku lalui bersama suami tentang pro dan kontra, plus dan minus nya melahirkan di tanah rantau dan di kampung halaman. Akhirnya keputusan pun telah bulat, kami memutuskan untuk kembali ke kampung halaman kami. Mengingat anak yang ku kandung ini akan lahir di pertengahan atau akhir Maret, yakni beberapa hari/pekan sebelum Ramadhan tiba. Tentu saja hal tersebut cukup menyulitkan kami apabila kami memutuskan agar aku melahirkan di tanah rantau, terlebih ini adalah anak pertama kami, tentu saja pengalaman kami masih nihil apabila tanpa uluran tangan dari orang tua.

Kami pun telah sepakat untuk berangkat di minggu ke-32 kehamilanku.

Perjalanan melewati tol cukup menyenangkan, tidak ada keluhan yang terlalu berarti, hanya lelah perjalanan yang cukup memporak-porandakan badanku yang sudah membengkak ini. Kami menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam.

Menyenangkan sekali, akhirnya kembali ke kampung halaman bertemu keluarga setelah beberapa bulan tak bertemu.

Keesokan harinya, kami bersiap melihat hasil USG 4D anak pertama kami, yang insyaAllah berjenis kelamin laki-laki. Namun, entah kenapa sejak awal kehamilan, setiap bulan di USG anak kami selalu tak pernah menampakkan mukanya. Terkadang tangannya ditutup di hidung, kemarin kakinya menggapai wajahnya, hingga tertutup semuanya dan hal itu terjadi kembali di USG 4D nya, anak kami menutup wajahnya dengan kaki mungilnya, astaga betapa lincahnya anak bujang kami ini.

Esok harinya, kami kontrol ke dokter di salah satu rumah sakit. Lagi-lagi janin ku tak mau menampakkan wajahnya, hanya sekelebat saja ia mau menampakkan wajahnya.

Lusa, adalah hari kepulangan suamiku ke tanah rantau, dikarenakan pekerjaan, tentunya.

Perasaanku sebenarnya sudah kalut sejak kami mengemas barang untuk bersiap pulang kampung. Jujur saja, tanah rantau kini sudah bak rumahku sendiri. Terlebih aku hidup berdua menjalani asam garam kehidupan bersama sahabat terbaik yang kupunya, suamiku.

Saat ia berpamitan pergi, dan meninggalkanku bersama orangtuaku. Rasanya campur aduk, sedih sekaligus khawatir akan keadaannya disana.

Aku harus menjalani pernikahan-jarak-jauh bersama sahabat rumpiku, penenangku dan sobat rusuhku. Rasanya sedih, tentu saja. Terlebih aku tak bisa bertemu dengannya setiap hari, seperti biasa. Tak bisa pillow talk sebelum tidur. Sampai hari kelahiran anakku tiba...

Aku selalu berdoa, semoga Allah senantiasa mengiringi langkahnya, semoga berkah Allah selalu berlimpah ke kehidupannya, semoga kesehatan selalu dilimpahkan disetiap harinya.

Hai, sahabat sekaligus suamiku, aku rindu.

Sehat-sehat selalu ya.