Jika ditanya, "Siapa sahabat sejatimu kini?"
Aku akan dengan lantang menjawab, "Suamiku."
Figur yang tampak acuh, tak perduli apa kata dunia, dan si pemakai sandal jepit kemanapun kakinya melangkah ini sesungguhnya memiliki sejuta rasa kasih dan sayang yang luar biasa tercurah untuk ku, istrinya dan anaknya.
Semua isi hati, isi pikiran dan segala gundah gulana yang kupikul rasanya sudah kucurahkan selalu kepada suamiku.
Sesungguhnya, ada perasaan bersalah dalam diriku setiap kali mengeluh dan menangis di hadapannya. Betapa berat beban yang ia pikul di pekerjaannya, sesampainya dirumah harus mendengar pula keluhanku.
Aku baru saja mengenalnya 5 tahun belakangan, namun semua hidupnya kini tersita hanya untuk menafkahiku dan anaknya. Bagaimana bisa aku memperlakukannya semauku?
Pria hebat yang kusebut suami ini adalah seseorang yang tangguh menghadapi berbagai benturan dalam kehidupannya. Darinya lah pula aku belajar menjadi kuat dan tangguh. Suamiku selalu mendampingi aku, si cengeng ini tatkala hatiku sedang rapuh mungkin karena perlakuan buruk orang lain terhadapku.
Berbanding terbalik dengannya yang sangat bisa mensortir hal-hal yang kiranya ia prioritaskan dan membuang yang dia anggap tak penting. Aku justru terlalu banyak menyimpan folder-folder sampah dalam hati dan pikiranku, sehingga menjadikan aku perempuan rapuh yang harus dibimbing ekstra olehnya.
Meski kadang kesabarannya diuji, ada kalanya nada suara suamiku meninggi tatkala membimbingku, namun hatinya selalu luluh kalau air mata sudah jatuh di pelupuk pipiku.
Tears is a woman's weapoon indeed.
Suamiku, dengan sejuta kelempengannya dan sikap acuh tak acuhnya justru adalah orang yang benar-benar aku butuhkan dalam hidupku. He is all I want in a man.
Bisa dipastikan setiap malam sebelum tidur, kami memiliki sesi pillow talk. Memang lebih banyak aku yang mendominasi obrolan pillow talk tersebut, karena suamiku memang irit berbicaranya, hehe.
Ada perasaan lega setiap kali sesi pillow talk kami berlangsung. Aku merasa selalu di dengarkan olehnya. Seringkali memang tak ada respon atau solusi dari suamiku, namun aku yakin yang dibutuhkan perempuan hanyalah telinga yang mau mendengarkan, terkadang kami sudah tahu apa yang harus dilakukan, namun dengan adanya validasi oleh orang yang mendengarkan kami, kami rasa sudah cukup. Perempuan cenderung hanya ingin di dengar dan dimengerti. Dan suamiku menerapkannya dengan baik.
Suamiku cukup demokratis dan feminis urusan pekerjaan domestik. Ia tak kan segan mencuci pakaian, menyapu, mengepel dan mencuci piring. Bahkan pekerjaan domestik jauh lebih rapih dan bersih jika dikerjaan oleh suamiku. Urusan packing baju pun, suamiku adalah ahlinya. Ia jauh lebih handal dibanding aku.
Berbeda dengan lelaki kaum patriarki yang masih merasa gengsi mengerjakan pekerjaan domestik. Suami feminisku ini justru menguasai betul urusan domestik dirumah.
Terlebih selama aku hamil, di akhir pekan kami sering kali berbagi tugas. Dia mencuci pakaian dan aku memasak. Aku menyapu dan dia mengepel. Aku mencuci piring dan dia menyikat wc.
Suamiku bak sahabatku. Aku lebih bangga menyebutnya sebagai sahabatku yang tinggal seatap denganku.
Ah, bercerita mengenai suamiku, aku jadi semakin rindu dengannya.
Kehamilanku kini menginjak 9 bulan, hanya tinggal menghitung hari. Hampir sebulan aku tinggal bersama orangtua ku, hampir sebulan pula aku terpisah dengan suamiku.
Sempat, di pekan lalu suamiku datang berkunjung selama 3 hari. Cukup lumayan, untuk sekadar melepas rindu.
Suamiku, sahabatku, partner hidupku, pendengar dan penasihatku...
Aku rindu sekali. Sehat selalu ya...